Kongres Alumni Sekolah Jesuit Serukan Kepemimpinan yang Berakar pada Pelayanan, Perdamaian, dan Harapan

YOGYAKARTA – Kongres XI World Union of Jesuit Alumni (WUJA XI) berakhir pada 2 Agustus dengan seruan kepada para alumni Jesuit di seluruh dunia untuk menjadi pemimpin yang mengedepankan pelayanan, rekonsiliasi, dan harapan di tengah berbagai tantangan global yang semakin kompleks.

Pertemuan selama lima hari yang diselenggarakan di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta—salah satu pusat budaya dan pendidikan di Pulau Jawa—menghimpun para alumni Jesuit dari Asia, Afrika, Eropa, Oseania, dan Amerika dengan mengusung tema “United in Spirit, Leading with Purpose”.

Perayaan Ekaristi penutupan di Auditorium Driyarkara Universitas Sanata Dharma dipimpin oleh Romo Jesuit Benediktus Hari Juliawan, SJ, mantan Provinsial Serikat Yesus Indonesia.

Sebelum Misa penutupan, para delegasi secara aklamasi menyetujui dua dokumen penting, yakni Resolusi Yogyakarta dan Manifesto Yogyakarta, yang akan menjadi arah gerakan alumni Jesuit sedunia hingga kongres dunia berikutnya.

Resolusi Yogyakarta memuat sepuluh prioritas strategis, antara lain memperkuat jejaring alumni Ignasian di seluruh dunia, mendorong kepemimpinan kaum muda, memajukan perdamaian dan dialog antaragama, merawat ciptaan dalam semangat Laudato Si’, mengembangkan kepemimpinan yang beretika, memperluas evangelisasi digital, mendorong inovasi sosial, memperdalam formasi Ignasian sepanjang hayat, serta memperkuat kolaborasi dengan karya-karya Serikat Yesus dan Gereja universal.

Resolusi tersebut juga mengajak setiap asosiasi alumni di tingkat nasional dan regional untuk menyusun rencana aksi yang terukur serta membangun komunitas yang memungkinkan orang dari berbagai budaya, bahasa, generasi, dan tradisi iman mengalami rasa memiliki serta berpartisipasi secara aktif.

Melengkapi komitmen-komitmen praktis tersebut, Manifesto Yogyakarta menghadirkan visi spiritual bersama bagi para alumni Jesuit dalam menghadapi berbagai tantangan dunia saat ini, seperti perang, kemiskinan, kesenjangan yang semakin lebar, perubahan iklim, polarisasi politik, intoleransi beragama, serta penyalahgunaan teknologi digital.

Berangkat dari spiritualitas Ignasian, manifesto tersebut mengajak para alumni menjadi “kontemplatif dalam tindakan” (contemplativus in actione) dengan menghayati iman yang diwujudkan melalui keadilan, rekonsiliasi, dan pelayanan demi kebaikan bersama.

Dokumen itu juga menegaskan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang melekat, keberagaman merupakan anugerah, dan dialog selalu lebih kuat daripada konflik. Para alumni ditantang untuk menjadi “jembatan, bukan tembok”, dengan memajukan perdamaian, merawat bumi sebagai rumah bersama, berpihak kepada kaum miskin dan mereka yang terpinggirkan, serta menghayati kepemimpinan yang ditandai oleh kerendahan hati, belas kasih, dan integritas.

Alih-alih memandang pendidikan Jesuit sebagai sebuah bab yang telah selesai, manifesto tersebut mengajak para alumni untuk menghidupi “spiritualitas perutusan” sepanjang hayat, dimulai dari tindakan-tindakan sederhana namun nyata berupa pelayanan, kolaborasi, dan pendampingan di dalam keluarga, tempat kerja, Gereja, maupun masyarakat.

Perayaan Ekaristi penutupan mencerminkan semangat perutusan tersebut. Para delegasi diutus kembali ke negara masing-masing untuk membawa visi kongres tentang kepemimpinan dan pelayanan yang berakar pada iman.

Saat para peserta meninggalkan Yogyakarta, panitia menegaskan bahwa kongres ini bukanlah sebuah akhir, melainkan awal dari sebuah misi global yang diperbarui.

Komitmen tersebut dirangkum dalam deklarasi penutup yang diadopsi oleh seluruh peserta:

“United in Spirit. Leading with Purpose. Sent Forth to Transform the World.”

Similar Posts