Setahun Kepengurusan, IASM Perkuat Gagasan “Rumah Bersama” Alumni Seminari Mertoyudan

Memasuki satu tahun kepengurusan, Ikatan Alumni Seminari Mertoyudan (IASM) terus memperkuat konsolidasi alumni melalui gagasan “Rumah Bersama”. Selain membangun jejaring antargenerasi, IASM juga mulai menyiapkan sejumlah program yang diharapkan dapat menjawab kebutuhan nyata para alumni.

Hal tersebut disampaikan dalam pertemuan IASM pada Agustus 2026. Mewakili pengurus, Ketua IASM Bonifacius Damar Juniarto menyampaikan paparan mengenai perjalanan satu tahun kepengurusan sekaligus arah pengembangan organisasi ke depan.

Dalam paparannya, Damar mengatakan bahwa satu tahun pertama menjadi momentum penting bagi pengurus untuk melihat kembali perjalanan organisasi sekaligus mengidentifikasi tantangan yang masih harus dijawab.

Salah satu tantangan awal adalah memperjelas kembali identitas IASM. Di tengah keberadaan berbagai angkatan, regio, komunitas minat, profesi, dan kelompok alumni, muncul pertanyaan mengenai apa sebenarnya IASM, siapa yang menjadi bagian di dalamnya, serta apa manfaat yang dapat diberikan organisasi kepada para alumni.

Karena itu, pengurus kemudian mengembangkan gagasan Rumah Bersama sebagai sebuah ruang yang memungkinkan seluruh alumni tetap memiliki ikatan, tanpa harus kehilangan identitas kelompok, angkatan, regio, maupun komunitas masing-masing.

“Rumah Bersama” tersebut dibangun dengan semangat rukun, relevan, dan rekat. Ketiganya menjadi gambaran mengenai bagaimana alumni diharapkan dapat terus menjaga persaudaraan, menghadirkan organisasi yang relevan dengan kebutuhan zaman, sekaligus mempererat hubungan satu sama lain.

Memperkuat jejaring alumni

Salah satu perkembangan penting selama satu tahun kepengurusan adalah semakin luasnya jaringan komunikasi alumni.

Saat ini, Rumah Bersama telah menggunakan platform komunikasi bersama untuk menghubungkan alumni dari berbagai wilayah, angkatan, kelompok minat, dan profesi. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pengurus untuk membangun basis komunikasi yang lebih terintegrasi.

Namun, pengurus menyadari bahwa platform komunikasi tersebut belum menjadi bentuk akhir dari ekosistem alumni yang ingin dibangun.

Karena itu, IASM juga tengah menyiapkan MertoKonek, sebuah platform digital yang nantinya diharapkan dapat mempertemukan alumni bukan hanya berdasarkan nomor kontak, tetapi juga berdasarkan identitas, profesi, kebutuhan, minat, serta berbagai potensi kolaborasi.

Dengan platform tersebut, alumni diharapkan dapat lebih mudah mengetahui siapa saja yang berada dalam jaringan IASM dan bagaimana mereka dapat saling terhubung serta berkontribusi.

Gagasan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun organisasi alumni yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat komunikasi, tetapi juga sebagai ruang untuk mengembangkan berbagai bentuk kerja sama.

Menuju alumni yang sehat dan bermartabat

Selain konsolidasi organisasi dan pengembangan platform digital, pengurus IASM juga memperkenalkan gagasan program baru yang diberi nama “Alumni Sehat, Alumni Bermartabat.”

Program tersebut lahir dari kesadaran bahwa membangun Rumah Bersama tidak cukup hanya dengan mempertemukan dan menghubungkan alumni. Rumah Bersama juga perlu mampu menghadirkan perhatian dan solidaritas ketika alumni menghadapi berbagai situasi kehidupan.

Program ini dirancang sebagai bentuk kepedulian terhadap alumni, terutama dalam bidang kesehatan, kedukaan, pendidikan, serta kebutuhan sosial lainnya.

Dalam konsep awalnya, program tersebut juga membuka kemungkinan pemberian dukungan bagi keluarga alumni dan anak-anak alumni yang membutuhkan perhatian, termasuk dalam bidang pendidikan maupun kondisi darurat.

Namun, Damar menegaskan bahwa program Alumni Sehat, Alumni Bermartabat tersebut masih dalam tahap pembahasan dan perumusan. Berbagai aspek mengenai bentuk program, mekanisme, sumber pembiayaan, kriteria penerima manfaat, hingga kemungkinan kerja sama dengan berbagai pihak masih harus dibicarakan lebih lanjut.

Karena itu, seluruh gagasan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut belum merupakan keputusan final dan masih terbuka terhadap masukan dari para alumni.

Bukan lembaga sosial

Dalam pembahasan mengenai program tersebut, pengurus juga menegaskan posisi IASM sebagai organisasi alumni.

IASM tidak diarahkan untuk menjadi lembaga sosial yang menggantikan organisasi atau lembaga yang selama ini telah memiliki pengalaman dalam pelayanan sosial. Sebaliknya, berbagai program sosial yang nantinya dikembangkan akan diupayakan melalui pola kolaborasi dan kemitraan dengan pihak-pihak yang relevan.

Pendekatan ini dinilai penting agar IASM tetap berfokus pada perannya sebagai rumah bersama para alumni, sekaligus mampu membangun jejaring yang lebih luas untuk menjawab kebutuhan komunitas.

Dari rumah bersama menuju karya bersama

Bagi pengurus, konsolidasi yang dilakukan selama satu tahun pertama bukanlah tujuan akhir. Rumah Bersama diharapkan menjadi fondasi bagi alumni untuk bergerak lebih jauh.

Tahap awal diarahkan pada upaya mengenali kembali siapa saja yang menjadi bagian dari komunitas alumni, memperkuat hubungan antarkelompok, serta memastikan bahwa setiap alumni memiliki ruang untuk terhubung dan berkontribusi.

Setelah fondasi tersebut semakin kuat, IASM berharap dapat memasuki tahap berikutnya, yakni memperluas kolaborasi dan menghasilkan karya bersama.

Dalam peta jalan yang disampaikan pengurus, tahun-tahun mendatang diharapkan menjadi momentum bagi alumni Seminari Mertoyudan untuk tidak hanya berkumpul sebagai komunitas, tetapi juga menghadirkan kontribusi yang lebih nyata bagi masyarakat dan bangsa.

Karena itu, perjalanan satu tahun kepengurusan IASM menjadi momentum untuk mengevaluasi sekaligus menegaskan kembali arah organisasi: membangun Rumah Bersama, memperkuat persaudaraan, saling menjaga, dan pada akhirnya bergerak bersama untuk menghasilkan karya.

Berbagai gagasan yang muncul dalam pertemuan tersebut masih akan dibahas lebih lanjut bersama para pengurus angkatan, regio, komunitas, dan alumni. Dengan demikian, arah baru IASM diharapkan tidak lahir hanya dari keputusan pengurus, tetapi menjadi hasil dari proses mendengarkan, berdialog, dan membangun kesepakatan bersama di antara seluruh alumni.

Similar Posts