Gubernur DIY Ajak Alumni Jesuit Dunia Menjadi Pemimpin Berhati Nurani dan Pelayan Kemanusiaan
YOGYAKARTA – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X mengajak para alumni Jesuit dari seluruh dunia untuk menghayati model kepemimpinan yang berakar pada hati nurani, keberanian moral, dan pelayanan kepada sesama di tengah dunia yang semakin diwarnai ketidakpercayaan, krisis ekologis, dan memudarnya nilai-nilai kemanusiaan.
Pesan tersebut disampaikan Sultan dalam sambutan pembukaan Kongres XI World Union of Jesuit Alumni (WUJA) yang berlangsung di Auditorium Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, Kamis (30/7). Kongres yang mengusung tema United in Spirit, Leading with Purpose itu mempertemukan para alumni lembaga pendidikan Jesuit dari berbagai negara untuk merefleksikan peran mereka dalam membangun dunia yang lebih adil, damai, dan berkeadaban.
Dalam sambutannya, Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa Yogyakarta memiliki hubungan historis yang panjang dengan pendidikan Jesuit. Kehadiran lembaga-lembaga seperti sekolah-sekolah Kanisius, Kolese De Britto, hingga Universitas Sanata Dharma telah memberikan kontribusi besar dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter kuat dan semangat pengabdian kepada masyarakat.
“Saya selalu merasa seolah-olah kembali pada sebuah percakapan lama setiap kali berada di tengah keluarga besar Jesuit,” ungkapnya. Percakapan itu, menurut Sultan, berbicara tentang ilmu pengetahuan yang menemukan martabatnya ketika diwujudkan dalam tindakan nyata, iman yang menjadi terang melalui pelayanan, serta persaudaraan yang tidak berhenti sebagai kenangan, tetapi terus berkembang menjadi sebuah misi bersama.
Sultan juga mengangkat salah satu ajaran mendasar dalam tradisi Gereja Katolik, yakni keyakinan bahwa di mana kasih dan belas kasih hadir, di sanalah Allah menyatakan kehadiran-Nya. Semangat inilah, katanya, yang telah menopang perjalanan World Union of Jesuit Alumni selama 70 tahun sejak didirikan pada 1956 dan tetap menghidupi pertemuan internasional mereka di Yogyakarta tahun ini.
Bagi Yogyakarta, menjadi tuan rumah kongres internasional tersebut bukan sekadar menerima tamu dari berbagai negara. Berangkat dari nilai-nilai budaya Jawa, Sultan menjelaskan bahwa setiap tamu merupakan amanah hati yang membawa kisah, pengalaman, doa, dan harapan. Menyambut tamu berarti membuka ruang bagi tumbuhnya persaudaraan melalui kesediaan untuk saling mendengarkan dan menemukan irama bersama di tengah keberagaman.
Lebih lanjut, Sultan menghubungkan tema kongres dengan filosofi yang terdapat dalam Serat Sastra Gendhing karya Sultan Agung. Dalam karya tersebut, sastra melambangkan makna, sedangkan gendhing melambangkan irama. Makna tanpa irama akan menjadi kering, sementara irama tanpa makna hanyalah bunyi yang berlalu. Keduanya hanya mencapai kesempurnaan ketika saling melengkapi.
Menurutnya, tema United in Spirit, Leading with Purpose mencerminkan filosofi tersebut. Persatuan dalam semangat ibarat harmoni gamelan yang mengajarkan kesediaan mendengarkan berbagai nada tanpa tergesa-gesa membungkam perbedaan. Sementara kepemimpinan yang memiliki tujuan menuntut kejernihan visi, keteguhan nilai, serta keberanian untuk mengabdikan diri demi pelayanan.
Merefleksikan situasi dunia saat ini, Sultan menilai bahwa meskipun manusia dikelilingi oleh begitu banyak suara dan informasi, masyarakat justru semakin merindukan keheningan yang mampu membimbing hati nurani. Mengutip kebijaksanaan para sufi dan pemikiran Jalaluddin Rumi, ia mengibaratkan manusia sebagai seruling bambu yang hanya mampu menghasilkan nada yang menyentuh jiwa ketika memiliki ruang hening di dalam dirinya.
Karena itu, kepemimpinan sejati, tegasnya, tidak diukur dari kerasnya suara atau besarnya kekuasaan. Kepemimpinan justru tampak dalam kemampuan mendengarkan suara-suara yang lirih, memahami keraguan orang lain, serta menjalankan kewenangan tanpa kehilangan sisi kemanusiaannya. Seorang pemimpin sejati juga harus berani memilih jalan yang lebih sunyi dan rendah hati agar kepentingan bersama selalu berada di atas ambisi pribadi.
Sultan kemudian mengaitkan refleksi tersebut dengan kebijaksanaan budaya Jawa yang termuat dalam Serat Rama, adaptasi Jawa dari kisah Ramayana. Karya tersebut mengajarkan tiga tingkatan perilaku manusia, yaitu nistha sebagai hal-hal yang harus dihindari, madya sebagai hal-hal yang perlu dipahami, dan utama sebagai nilai-nilai yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kerangka itulah keberanian memperoleh maknanya yang terdalam. Mengutip Nelson Mandela, Sultan mengingatkan bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan kemampuan untuk menguasai rasa takut tersebut. Namun keberanian sejati melangkah lebih jauh, yakni tetap memilih jalan kebajikan meskipun jalan itu sulit, tidak populer, dan tidak selalu mendatangkan pujian.
Ia juga mengutip Socrates yang memandang refleksi diri sebagai awal kebijaksanaan. Dalam tradisi Jawa, proses tersebut diwujudkan melalui laku niti, nitik, napak, dan nanting—mencermati kenyataan secara mendalam, mengenali tanda-tandanya, menimbang perilaku sendiri, lalu menentukan langkah hidup dengan penuh tanggung jawab.
Lebih jauh lagi, Sultan menegaskan bahwa setiap upaya untuk mengubah dunia harus dimulai dari keberanian mengoreksi cara manusia memandang dunia itu sendiri. Dari sanalah lahir falsafah Jawa Hamemayu Hayuning Bawana, yakni memuliakan kehidupan, menjaga keindahan ciptaan, dan mengusahakan kesejahteraan seluruh makhluk.
Menurut Sultan, falsafah tersebut memiliki keselarasan yang mendalam dengan praktik discernment dalam spiritualitas Ignasian, yaitu kemampuan membedakan dorongan yang lahir dari ambisi pribadi dengan panggilan yang berasal dari pengabdian kepada Tuhan dan sesama. Ada saat-saat ketika seseorang perlu berhenti sejenak, bukan karena meragukan jalan yang dipilihnya, melainkan untuk memastikan bahwa setiap langkah tetap setia kepada suara hati nurani yang paling dalam.
Menutup sambutannya, Sultan berharap Kongres XI WUJA menjadi ruang bersama bagi para alumni Jesuit untuk merefleksikan arah perjalanan mereka setelah tujuh dekade berkarya di berbagai belahan dunia. Ia mengajak seluruh peserta untuk terus menempatkan ilmu pengetahuan, iman, dan pengabdian demi melayani kemanusiaan.
“Jika dunia saat ini tampak retak, tugas kita bukan memperlebar retakan itu, melainkan mengubahnya menjadi ruang tempat kasih, akal budi, dan keberanian moral dapat bertumbuh,” ujarnya.
Atas nama Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, Sultan menyampaikan selamat datang kepada seluruh peserta Kongres XI World Union of Jesuit Alumni. Ia berharap Yogyakarta menjadi tempat di mana persatuan menemukan iramanya, kepemimpinan menemukan tujuannya, dan pengabdian kembali menemukan jalannya menuju kemanusiaan.
Mengakhiri sambutannya, Sultan mengajak seluruh peserta untuk memelihara “nyala api kecil di dalam diri masing-masing—api yang tidak membakar, melainkan menerangi; api yang tidak menghanguskan perbedaan, tetapi menuntun kita untuk saling mengenali sebagai sesama ciptaan Tuhan.”
