Reuni Mertoyudan Tak Lagi Sekadar Nostalgia, Alumni Diajak Bergerak Bersama Menjawab Tantangan Zaman
YOGYAKARTA – Reuni alumni Seminari Menengah Mertoyudan (SMM) kini berkembang menjadi lebih dari sekadar ajang melepas rindu. Dua reuni yang berlangsung di Jakarta dan Yogyakarta sepanjang Juni hingga Juli 2026 memperlihatkan perubahan arah komunitas alumni: dari sekadar berkumpul menjadi ruang belajar, refleksi, serta membangun gerakan bersama menghadapi berbagai persoalan bangsa.
Ketua Ikatan Alumni Seminari Mertoyudan (IASM), Bonifacius Damar Juniarto, yang menghadiri kedua kegiatan tersebut, menilai komunitas alumni memiliki modal besar berupa solidaritas lintas generasi, kemampuan beradaptasi, dan semangat belajar yang dapat menjadi kekuatan kolektif di tengah situasi yang semakin kompleks.
Reuni lintas angkatan Mertoyudan Jabodetabek digelar pada 4 Juni 2026 di Graha Pemuda Katedral Jakarta, sementara Reuni Roh Merto Jogja (RMJ) berlangsung pada 11 Juli 2026 di Yogyakarta.
RMJ, Komunitas Alumni yang Tumbuh dari Semangat Persaudaraan
Menurut Damar yang kerap disapa dengan panggilan Amang, RMJ merupakan salah satu komunitas alumni tertua yang lahir jauh sebelum terbentuknya Ikatan Alumni Seminari Mertoyudan. Komunitas ini mempertemukan alumni lintas angkatan dalam semangat persaudaraan yang selama ini menjadi ciri khas keluarga besar Mertoyudan.
Meski telah lama mendengar kiprah RMJ, Damar mengaku baru pertama kali mengikuti reuni komunitas tersebut. Perjalanan panjang yang ditempuh dari Palembang menuju Yogyakarta tidak mengurangi keinginannya untuk hadir secara langsung.
“Saya merasa sungguh perlu hadir mengikuti reuni RMJ,” ungkapnya.
Setibanya di lokasi, alumni dari berbagai angkatan berdatangan dan saling menyapa. Kehangatan perjumpaan lintas generasi menjadi suasana yang langsung terasa sejak awal acara. Alumni muda hadir dalam jumlah yang cukup besar berdampingan dengan para senior yang telah lebih dahulu membangun komunitas tersebut.
Bagi Damar, kehadiran generasi muda menjadi sinyal positif bahwa RMJ tetap relevan dan diterima oleh berbagai angkatan.
Reuni Dikemas Lebih Bermakna
Berbeda dari konsep reuni yang identik dengan makan bersama dan nostalgia, penyelenggara menghadirkan sejumlah kegiatan yang memberi nilai tambah bagi para peserta.
Salah satunya adalah layanan pemeriksaan kesehatan berupa pengecekan tekanan darah dan kadar gula darah. Fasilitas ini mendapat sambutan antusias, terutama dari para alumni senior yang rela mengantre untuk mengetahui kondisi kesehatannya.
Gagasan tersebut merupakan bagian dari upaya agar reuni tidak hanya mempererat relasi sosial, tetapi juga memperhatikan kebutuhan nyata para alumninya.
Damar sebelumnya juga mendorong setiap komunitas alumni agar mulai mengembangkan pola reuni yang memadukan perhatian terhadap kesehatan dengan peningkatan kapasitas intelektual.
Ia mengusulkan konsep Sinau Sareng Sedulur (SSS), yakni forum belajar bersama yang memungkinkan para alumni saling berbagi pengetahuan, pengalaman, maupun pandangan mengenai berbagai persoalan masyarakat.
Konsep serupa telah diterapkan dalam reuni lintas angkatan Mertoyudan Jabodetabek. Selain pemeriksaan kesehatan yang diikuti puluhan alumni, kegiatan tersebut juga menghadirkan forum diskusi yang melibatkan sejumlah tokoh nasional dari berbagai profesi, mulai dari ekonom, pengacara, akademisi hingga jurnalis.
Menurut Damar, pendekatan itu disusun berdasarkan pemetaan profil alumni yang menunjukkan bahwa saat ini terdapat empat generasi alumni hidup dalam satu komunitas besar dengan kebutuhan yang berbeda-beda.
Film dan Diskusi Papua
Sementara itu, reuni RMJ memilih pendekatan yang berbeda.
Acara dibuka dengan pemutaran film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Laksono, kemudian dilanjutkan dengan refleksi dan diskusi bersama.
Diskusi dipantik oleh Indro Suprobo dan dimoderatori Widya Kiswara. Para peserta membahas berbagai isu yang diangkat dalam film, termasuk persoalan kemanusiaan dan dinamika yang terjadi di Papua.
Menurut Damar, forum tersebut menunjukkan tradisi intelektual yang masih hidup di kalangan alumni Mertoyudan. Diskusi berlangsung kritis namun tetap terbuka, memperlihatkan kepedulian terhadap isu-isu sosial yang lebih luas.
Karakter Pembelajar Tetap Menjadi Identitas Alumni
Dari dua reuni tersebut, Damar melihat satu benang merah yang terus melekat pada para alumnus Seminari Menengah Mertoyudan, yakni kuatnya karakter sebagai pembelajar (scientia).
Selain semangat gotong royong dan persaudaraan yang terus terpelihara, para alumni dinilai tetap memiliki kebiasaan berdialog, membaca situasi, dan mencari pemahaman yang lebih mendalam terhadap berbagai persoalan.
Karakter tersebut, menurutnya, menjadi modal penting bagi komunitas alumni untuk tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Dari Hidup Bersama Menuju Bergerak Bersama
Di akhir refleksinya, Damar mengajak alumni Mertoyudan mulai memikirkan langkah yang lebih jauh setelah reuni usai.
Ia menilai berbagai komunitas alumni telah menunjukkan potensi besar, kemampuan beradaptasi, serta daya lenting (resiliensi) yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan bersama dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, ekonomi, maupun kebangsaan.
Karena itu, reuni tidak seharusnya berhenti sebagai agenda silaturahmi tahunan, melainkan menjadi titik awal lahirnya berbagai kolaborasi lintas profesi dan lintas generasi.
Menurutnya, gagasan tentang “bergerak bersama” masih perlu didiskusikan lebih luas melalui berbagai forum alumni, baik di tingkat angkatan, wilayah, maupun profesi. Namun waktu menuju Reuni Akbar Alumni Seminari Menengah Mertoyudan dalam satu hingga dua tahun mendatang dapat dimanfaatkan untuk mulai membangun arah gerakan tersebut.
“Dari dua reuni ini saya melihat potensi besar yang dimiliki alumni. Kini tantangannya bukan lagi sekadar hidup bersama sebagai satu keluarga besar, tetapi bagaimana bergerak bersama untuk memberi kontribusi yang lebih nyata bagi Gereja, masyarakat, dan bangsa,” demikian refleksi Damar.

