Temu Kolese 2026 di Semarang Ajak Para Pelajar di Kolese Jesuit Berani “Membuat Keributan”

SEMARANG, Indonesia — Delapan sekolah Kolese Jesuit di Indonesia akan kembali mempertemukan para siswa dalam Temu Kolese 2026 yang akan berlangsung pada 12–16 Oktober 2026 di SMA Kolese Loyola, Semarang. Mengangkat tema “Fate Chiasso”, perjumpaan lima hari ini mengajak kaum muda untuk berani bersuara, membangun persahabatan, dan menerjemahkan semangat iman ke dalam tindakan nyata.

Temu Kolese atau Tekol merupakan ruang perjumpaan bagi siswa-siswi sekolah Kolese Jesuit di Indonesia. Kegiatan ini dirancang bukan semata sebagai ajang kompetisi antarsekolah, melainkan sebagai kesempatan untuk bertemu, saling mengenal, membangun persahabatan, berefleksi, dan bergerak bersama.

Delapan lembaga pendidikan yang terlibat dalam Temu Kolese 2026 adalah Kolese Gonzaga, Kolese Kanisius, Kolese PIKA, Kolese Loyola, Seminari Mertoyudan, Kolese Mikael, Kolese De Britto, dan Kolese Le Cocq D’Armandville.

Dari kompetisi menuju persahabatan

Menurut laman resmi Temu Kolese, kegiatan ini berakar pada sejarah perjumpaan antarkolese Jesuit yang pada awalnya melibatkan tiga kolese, yakni Kolese De Britto, Kolese Loyola, dan Kolese Kanisius. Para siswa dari ketiga sekolah tersebut saling mengunjungi secara bergantian.

Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi pertemuan yang melibatkan seluruh kolese Jesuit Indonesia dan secara rutin berlangsung sejak dekade 1980-an. Kegiatan ini sempat terhenti akibat pandemi, tetapi kemudian dilanjutkan kembali.

Dalam perkembangannya, Temu Kolese menjadi ruang yang mempertemukan keberagaman karakter dan pengalaman para siswa dari berbagai kota. Kompetisi olahraga dan seni ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas, yakni membangun relasi dan kesadaran sebagai bagian dari satu keluarga pendidikan Jesuit.

Temu Kolese 2026 akan menghadirkan berbagai cabang olahraga, seni, serta kegiatan yang mengembangkan kemampuan berpikir dan berekspresi. Di antara lomba yang tercantum dalam laman resmi adalah sepak bola, basket, bulu tangkis, debat bahasa Inggris, band, film pendek, mendongeng, dan solo vokal.

“Fate Chiasso”: membuat suara kaum muda terdengar

Tema Temu Kolese 2026 adalah “Fate Chiasso”, sebuah ungkapan yang diambil dari seruan Paus Fransiskus kepada kaum muda dalam Christus Vivit artikel 143: “Buatlah keributan di keuskupan-keuskupan, teriakkanlah dengan hatimu.”

Tema tersebut diterjemahkan oleh penyelenggara sebagai ajakan agar kaum muda tidak takut mengambil risiko dan menghadapi tantangan. Mereka didorong untuk tidak hanya menjadi penonton terhadap perubahan, tetapi mengambil bagian di dalamnya.

“Fate Chiasso” karena itu tidak dimaksudkan sekadar sebagai ajakan untuk membuat kebisingan secara harfiah. Dalam konteks Temu Kolese, seruan tersebut menjadi simbol keberanian kaum muda untuk menyuarakan apa yang diyakini, keluar dari zona nyaman, serta menghadirkan perubahan melalui tindakan.

Semangat itu juga tampak dalam lagu tema Temu Kolese 2026 berjudul Fate Chiasso, karya Soundrift Kolese Gonzaga. Lirik lagu tersebut berbicara tentang keberanian untuk melangkah, persaudaraan di tengah perbedaan, serta mengubah suara dan semangat kaum muda menjadi tindakan.

Api, obor dan delapan bintang

Semangat Temu Kolese 2026 juga diterjemahkan melalui identitas visual yang terdiri atas empat unsur utama: api, obor, IHS, dan delapan bintang.

Api melambangkan semangat anak Kolese untuk bertumbuh, mencoba, berani, dan tetap menyala meskipun menghadapi rasa lelah, takut, atau ragu. Api juga dimaknai sebagai simbol harapan: nyala yang kecil sekalipun tetap dapat memberikan terang.

Di pusat logo terdapat simbol IHS. Penempatan IHS di tengah dimaksudkan untuk mengingatkan bahwa semangat Temu Kolese tetap berakar pada iman dan nilai Kristiani. Semangat tersebut dikaitkan dengan kasih, pelayanan, dan persaudaraan.

Sementara itu, obor menjadi simbol arah, pegangan, dan tanggung jawab. Menurut penjelasan penyelenggara, energi kaum muda membutuhkan arah agar tidak sekadar menjadi semangat yang menyala tanpa tujuan. Karena itu, energi tersebut perlu dibentuk melalui nilai, karakter, dan pendidikan.

Delapan bintang melambangkan delapan Kolese Jesuit yang berpartisipasi. Setiap Kolese memiliki cerita, karakter, dan warna masing-masing, tetapi seluruhnya ditempatkan sebagai bagian dari satu keluarga besar pendidikan Jesuit.

Lebih dari sekadar pertemuan

Bagi penyelenggara, Temu Kolese bukan hanya agenda lima hari yang diisi dengan pertandingan dan perlombaan. Perjumpaan menjadi inti kegiatan tersebut.

“Bertemu. Mengenal. Bersahabat. Bergerak bersama” menjadi rangkaian gagasan yang mendasari Temu Kolese 2026. Para siswa dari berbagai kolese, kota, dan pengalaman dipertemukan untuk membangun relasi yang melampaui batas masing-masing sekolah.

Dalam kerangka itu, kompetisi justru menjadi sarana untuk membangun kebersamaan. Lapangan olahraga, panggung seni, ruang debat, maupun produksi film menjadi tempat para siswa belajar bekerja sama, berani tampil, menghargai perbedaan, dan menemukan cara untuk menyampaikan suara mereka.

Temu Kolese 2026 akan dibuka pada Senin, 12 Oktober 2026 pukul 08.00 WIB dan berlangsung hingga 16 Oktober di SMA Kolese Loyola, Semarang.

Dengan tema Fate Chiasso, perjumpaan tersebut menempatkan kaum muda bukan hanya sebagai penerima pendidikan, tetapi sebagai pribadi yang diharapkan mampu membawa suara, kreativitas, iman, dan kepedulian mereka ke tengah masyarakat.

Pada akhirnya, “membuat keributan” dalam Temu Kolese 2026 berarti memberi ruang bagi suara kaum muda untuk terdengar—bukan sekadar melalui kata-kata, tetapi melalui persahabatan, keberanian, kreativitas, dan tindakan.

Similar Posts