Temu Kolese 2026 Hadirkan Delapan Alumni dalam Kelas Inspirasi
SEMARANG – Temu Kolese 2026 di SMA Kolese Loyola, Semarang, Jawa Tengah, menghadirkan pendekatan baru melalui Kelas Inspirasi. Dalam pertemuan delapan kolese yang dikelola Para Jesuit Indonesia pada 12–16 Oktober 2026 itu, para siswa tidak hanya berkompetisi dalam bidang olahraga dan seni, tetapi juga belajar dari perjalanan hidup para alumni yang pernah menghadapi kegagalan, mengalami perubahan arah, dan menemukan kembali makna hidup mereka.
Kelas Inspirasi menghadirkan delapan alumni dari masing-masing kolese untuk berbagi pengalaman kepada para siswa. Kegiatan ini dilaksanakan secara paralel di delapan ruang, dengan peserta yang berasal dari berbagai sekolah. Secara keseluruhan, Temu Kolese 2026 mempertemukan sekitar 900 peserta dari delapan kolese.
Salah satu narasumber yang hadir ialah Gabriel Abdi Susanto, jurnalis dan alumni Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan. Dalam sesi yang berlangsung pada Rabu, 14 Oktober 2026, Abdi berbagi pengalaman tentang perjalanan imannya: pernah kehilangan kepercayaan kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kemudian mundur dari formasi Serikat Yesus, hingga akhirnya menerima kembali Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Kini, ia aktif melayani Gereja dan berbagai komunitas.
Di gedung Loyola Student Center, sekitar 60 siswa berusia 15–18 tahun menyimak kisah Abdi dalam sesi bertajuk “Menyangkal Kristus, tapi Bertobat dan Menjadi Pewarta Digital”. Alih-alih memberikan kiat sukses atau motivasi yang bersifat umum, Abdi mengajak para siswa melihat bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Tuhan selalu memberi jalan dan menuntun hidup kita.
Dari Kisah Hidup Menuju Pilihan Konkret
Ketua Panitia Pelaksana Temu Kolese 2026, Romo Hendricus Satya Wening Pambudi, S.J., menjelaskan bahwa Kelas Inspirasi dirancang bukan sebagai seminar atau talkshow motivasi. Para pembicara, yang merupakan alumni perwakilan masing-masing kolese, diminta menceritakan bagian perjalanan hidup mereka yang tidak selalu lurus, termasuk pengalaman keluar dari jalur yang dianggap aman dan menghadapi kegagalan.
Namun, kegiatan ini tidak berhenti pada kisah kegagalan. Para alumni juga diminta berbagi tentang proses menciptakan Fate Chiasso atau “keributan baik” bagi masyarakat. Setelah mendengarkan kisah para narasumber, para siswa diajak mengolah pengalaman tersebut melalui metode See-Judge-Act: melihat kenyataan hidup yang disampaikan, menimbang maknanya, lalu merumuskan tindakan konkret yang dapat mereka lakukan bagi masyarakat sekitar.
Tema Fate Chiasso! diangkat dari seruan Paus Fransiskus dalam dokumen Christus Vivit, khususnya artikel 143. Menurut Romo Hendricus, seruan tersebut mengajak kaum muda untuk tidak sekadar mengamati kehidupan dari kejauhan, tetapi berani mengambil risiko, terlibat, dan menghadirkan perubahan.
“Fate Chiasso! bukanlah ajakan untuk membuat keributan yang merusak, melainkan dorongan agar kaum muda berani menghasilkan karya, mengambil inisiatif, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan,” ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Kolese Loyola itu.
Menurut Hendricus, rancangan kegiatan ini berkaitan dengan Preferensi Kerasulan Universal pertama Serikat Yesus, yakni menunjukkan jalan menuju Allah melalui Latihan Rohani dan diskresi. Melalui pengalaman nyata para alumni, para siswa diharapkan dapat melihat bagaimana iman hadir dalam pengalaman kegagalan, pergulatan, konflik, dan keberanian untuk membuat perubahan.
Kelas Inspirasi juga dirancang untuk memperkenalkan berbagai bentuk “keributan positif” yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman para alumni menjadi bahan pembelajaran bersama agar peserta dapat menemukan inspirasi untuk mengembangkan potensi masing-masing.
Delapan Alumni, Delapan Kisah Perjalanan Hidup
Selain Gabriel Abdi Susanto dari Seminari Mertoyudan, tujuh alumni lainnya hadir dari kolese-kolese berbeda dengan kisah perjalanan dan bidang pengabdian masing-masing.
Thomas Avitho da Lopez, S.H., ICAP I, dari Kolese Gonzaga membawakan sesi “Beautiful Mind and Hearts”. Sebagai asesor kompetensi dan konselor adiksi, ia berbagi pengalaman tentang pelayanan rehabilitasi narkoba, pengembangan kompetensi konselor, serta keterlibatannya dalam organisasi yang bergerak di bidang penanganan adiksi.
Dari Kolese Kanisius, Arthur Ferdinand Anondo membawakan sesi “Dari Gagal Jadi Kuat, Bareng Tuhan Kita Bangkit”. Pengusaha yang pernah menjabat sebagai CEO dan menjadi salah satu pendiri Luckycat Auction itu kini mengembangkan Noob Padel. Dalam perjalanan usahanya, ia juga terlibat dalam kegiatan berbagi makanan dan sembako kepada masyarakat serta membuka lapangan pekerjaan bagi puluhan orang.
Ki Wahyu Dunung Raharjo, S.Sn., dari Kolese Mikael mengangkat tema “Wayang: Antara Tradisi dan Teknologi”. Sebagai Ketua Yayasan Sang Pamarta Indonesia, ia mengembangkan berbagai bentuk pertunjukan wayang, termasuk Pokéwayang atau Wayang Pokémon, Animawayang, dan Wayang Revolusi. Ia juga pernah mengikuti pameran di Chuncheon Puppetry Museum, Korea Selatan, serta mengunjungi lebih dari sepuluh negara untuk mengadakan pentas dan lokakarya.
George Guling dari Kolese de Britto berbagi pengalaman melalui sesi “Setia pada Perkara Kecil: Perjalanan Menemukan Makna Pemimpin yang Melayani”. Ia menceritakan perjuangannya memasarkan kopi Toraja selama delapan tahun hingga berkesempatan menghadiri World of Coffee di Houston pada 2025 dan Brussels pada 2026.
Setelah mendelegasikan operasional usaha kopinya kepada keluarga di kampung halaman, George merintis bisnis pemasok pastry. Usaha tersebut berkembang dari produksi 50 buah per hari menjadi 2.000 buah per hari, dengan 57 karyawan dan jaringan 350 gerai yang tersebar di Pulau Jawa hingga Lampung.
Florensia Pekey dari Kolese Le Cocq d’Armandville membawakan sesi “Dari MC Sekolah Sampai Aktif di Kampus: Aku Belajar Berani Mulai dari Kepanitiaan”. Ia menceritakan proses membangun kembali kepercayaan diri setelah mengalami perubahan dalam kehidupan perkuliahan. Pengalamannya menjadi pembawa acara (MC) saat sekolah, kemudian terlibat dalam organisasi mahasiswa dan kepanitiaan, membantunya belajar berani mengambil peran, termasuk bekerja di balik layar.
Cornelius Ardian Dwi Putranto dari Kolese PIKA hadir dengan tema “Aku Bukan Anak Gagal”. Ia berbagi pengalaman menghadapi persoalan keluarga dan kesulitan di sekolah, termasuk pernah tidak naik kelas. Pengalaman yang membuatnya pernah dicap gagal itu menjadi titik pembelajaran untuk bertumbuh sebagai pribadi yang lebih bertanggung jawab.
Dan dari alumni Kolese Loyola, Anthony Steven Hambali membawakan sesi “Menghidupi Slogan ‘Frontier Post’”. Sebagai Direktur PT Sumber Alam Ekspress, ia menceritakan berbagai inisiatif sosial dan inovasi di bidang transportasi. Inisiatif tersebut antara lain lelang bus untuk Palu, sumbangan satu bus bagi sebuah madrasah ibtidaiyah di Sumatera Barat, serta pengembangan bus “Social Distancing” dan “Biosmart Bus” bersama sejumlah mitra.
Kelas inspirasi ditutup dengan pleno bersama Pater Klaus Heinrich Raditio, SJ. Seluruh peserta hadir bersama di Hall Bellarminus mendengarkan paparan mantan diplomat ini.
Keributan Baik
Beragam kisah tersebut memperlihatkan bahwa “keributan baik” dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk: melayani orang yang berjuang melawan adiksi, menciptakan lapangan kerja, mengembangkan seni tradisional, membangun usaha, bangkit dari kegagalan, hingga menemukan kembali arah hidup dan iman.
Melalui Kelas Inspirasi, kata Romo Hendric, Temu Kolese 2026 tidak hanya menjadi ruang perjumpaan dan kompetisi antarsiswa, tetapi juga kesempatan bagi generasi muda untuk belajar dari pengalaman nyata, menemukan makna dalam perjalanan hidup, dan berani mengambil bagian dalam menciptakan perubahan bagi sesama.
“Kebermaknaan hidup tidak semata-mata ditentukan oleh pencapaian besar, tetapi juga oleh kesungguhan dalam menjalani pilihan hidup dan kesediaan untuk memberikan manfaat bagi orang lain, meskipun kegagalan kerap menjadi bagian dari perjalanan tersebut,”ujar Hendricus.

