Indonesia Siap Jadi Tuan Rumah World Union of Jesuit Alumni Congress 2026 di Yogyakarta
JAKARTA – Indonesia resmi bersiap menjadi tuan rumah Kongres World Union of Jesuit Alumni (WUJA) 2026. Perhelatan internasional empat tahunan yang mempertemukan para alumni lembaga pendidikan Jesuit dari seluruh dunia itu akan digelar di Yogyakarta pada 29 Juli-2 Agustus dengan target seribu peserta dari berbagai negara.
Ketua Organizing Committee WUJA 2026, James W Prakasa, menjelaskan bahwa WUJA merupakan federasi alumni lembaga pendidikan Jesuit di seluruh dunia. “Di dunia ada hampir 1.200 institusi pendidikan Jesuit, mulai dari sekolah dasar, menengah, hingga universitas. Masing-masing memiliki asosiasi alumni, dan mereka berhimpun dalam WUJA yang kini tersebar di 57 negara,” ujarnya dalam talkshow di acara Networking Alumni Kolese Jesuit – Indonesia Night: Music & Dinner yang menjadi bagian dari rangkaian Road to XI WUJA Congress, Hotel Fairmont, Jakarta, Rabu (04/03/2026).
Kongres WUJA diselenggarakan setiap empat tahun sekali. Terakhir, pertemuan berlangsung di Barcelona, Spanyol, pada 2022. Saat itu, Indonesia mengirimkan 37 delegasi—kontingen terbesar setelah tuan rumah. Dari pengalaman tersebut, muncul dorongan agar Indonesia menjadi tuan rumah berikutnya.
Memperkenalkan Indonesia kepada Dunia
Ketua Steering Committee, Elman Sunarlio, mengatakan bahwa terpilihnya Indonesia bukan semata soal teknis, melainkan juga visi. “Kongres ini bukan hanya untuk kita, tetapi agar dunia belajar tentang Indonesia—tentang multikulturalisme, kebinekaan, dan bagaimana sekolah-sekolah Katolik memberi kontribusi di tengah masyarakat yang mayoritas berpenduduk muslim,” ujarnya.
Pemilihan Yogyakarta dinilai strategis. Selain dikenal sebagai kota pendidikan dan budaya, Yogyakarta juga merepresentasikan wajah Indonesia yang plural. Informasi resmi penyelenggaraan dan agenda kegiatan dapat diakses melalui situs resmi WUJA Yogyakarta 2026 (https://www.wujayogyakarta2026.org/).
Lima Hari Kongres, Sentuhan Budaya dan Spiritualitas
Rangkaian acara Kongres WUJA 2026, menurut James, dirancang selama lima hari. Pembukaan akan digelar di Kawasan Gereja Candi Ganjuran, Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki kekayaan tradisi inkulturasi iman Katolik dengan budaya Jawa. Tiga hari berikutnya diisi dengan sesi konferensi menghadirkan pembicara nasional dan internasional, termasuk Pater Jenderal Serikat Jesus Pater Arturo Sosa SJ, Provinsial Serikat Yesus Romo Benedictus Hari Juliawan SJ, Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA., Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia Islah Bahrawi, dan beberapa tokoh lain.
Panitia juga menyiapkan agenda cultural trip ke Candi Borobudur serta gala dinner di kompleks Candi Prambanan sekaligus merayakan 70 tahun WUJA di malam terakhir. “Kami ingin peserta tidak hanya berdiskusi soal isu global, tetapi juga mengalami Indonesia secara langsung,” kata James.
Tema-tema yang akan diangkat mencakup tren global, modernisasi organisasi alumni, hingga peran alumni dalam menjawab tantangan dunia kontemporer.
Dari “Sleeping Giant” ke “Walking Giant”
Direktur Campus Ministry Kolese Kanisius, Romo Alexander Koko Siswijayanto SJ, menegaskan bahwa kongres ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan alumni Jesuit dunia. Ia mengutip gagasan penulis buku Heroic Leadership, Chris Lowney, yang menyebut alumni Jesuit sebagai “sleeping giant”—kekuatan besar yang masih tertidur.
“Kami tidak ingin giant ini terus tidur. Harapannya menjadi ‘walking giant’, kekuatan alumni yang benar-benar bergerak dan beraksi,” ujar Koko. Menurutnya, WUJA 2026 bukanlah akhir, melainkan awal gerakan kolaboratif alumni lintas negara bersama Serikat Yesus dalam karya nyata.
Target 1.000 Peserta, Butuh Dukungan Luas
Hingga awal 2026, panitia mencatat lebih dari 220 peserta luar negeri telah mendaftar, dengan dana registrasi terkumpul sekitar Rp500 juta. Dari sponsor dan donatur, dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp400 juta.
Total anggaran kegiatan diperkirakan mencapai Rp7,7 miliar, dengan asumsi kehadiran 1.000 peserta. Panitia juga menggratiskan biaya bagi peserta kategori youth—berusia di bawah 35 tahun dan belum menikah—termasuk penyediaan akomodasi.
“Kami membutuhkan dukungan semua pihak, baik dalam bentuk dana, jejaring, maupun partisipasi aktif,” kata Romo Koko.
Dengan persiapan yang telah dimulai sejak 2024 dan kerja intensif sepanjang 2025, panitia optimistis Yogyakarta akan menjadi panggung perjumpaan global alumni Jesuit yang tidak hanya merayakan jejaring, tetapi juga memperkuat komitmen aksi nyata.
WUJA 2026 diharapkan menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kebinekaan bukan sekadar slogan, melainkan realitas hidup yang terus dirawat dan diperjuangkan.

