Ekonom dan Aktivis Sosial Fransiskus Xaverius Wahana Nitiprawiro Meninggal Dunia

Yogyakarta — Ekonom dan aktivis sosial Francis Xavier Wahono meninggal dunia pada Minggu dini hari, 8 Maret 2026, di Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM), Sleman, Yogyakarta. Ia wafat dalam usia 71 tahun.

Berdasarkan informasi dari keluarga dan pengurus Paguyuban Pangruktilaya Makam Legundi, almarhum mengembuskan napas terakhir pada pukul 01.58 WIB di rumah sakit tersebut. Wahono merupakan warga Jatirejo, Sendangadi, Mlati, Sleman, tepatnya di RT 05 RW 22 Gang Mawar No. 94A. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai seorang ekonom, intelektual, dan aktivis yang banyak terlibat dalam kegiatan sosial, pendidikan, serta pengembangan masyarakat.

Jenazah almarhum akan diberkati pada Minggu, 8 Maret 2026 pukul 11.00 WIB di rumah duka di Jatirejo. Upacara pemberkatan akan dipimpin oleh Rm. Supriyanto, Pr. Setelah itu, jenazah akan dimakamkan pada pukul 14.00 WIB di Makam Pingitan, yang berlokasi di Sumberarum, Moyudan, Sleman. Prosesi keberangkatan menuju pemakaman akan dimulai dari rumah duka di Jatirejo. Almarhum meninggalkan seorang istri, Theresia Puspita Wati, serta dua anak, yaitu Annabella Arawinda Arundhati dan Villana Varadana Varastri, beserta keluarga besar.

Aktivis Sosial dan Ekonomi

Francis X. Wahono adalah seorang ekonom, aktivis sosial, dan praktisi pengembangan masyarakat yang memiliki pengalaman luas dalam dunia akademik, kemanusiaan, dan kerja akar rumput. Ia memiliki kapasitas yang kuat dalam merancang, mengelola, dan mengembangkan program-program pengembangan masyarakat, termasuk inisiatif yang berkaitan dengan Credit Union, koperasi, serta organisasi sosial. Keahliannya merupakan perpaduan antara pendidikan akademik yang kuat dan pengalaman panjang dalam kerja lapangan.

Secara akademik, ia meraih gelar Ph.D. dalam bidang Ekonomi dari La Trobe University. Ia juga menempuh studi di STF Driyarkara (Filsafat) pada 1974 – Seminari Menengah Mertoyudan 1970, IKIP Sanata Dharma (Pendidikan dan Teologi), serta di Australian National University. Latar belakang interdisipliner ini—yang mencakup ekonomi, filsafat, pendidikan, dan manajemen—memungkinkan dirinya melihat persoalan pembangunan sosial secara komprehensif, baik dari sisi teoritis maupun praktis.

Sejak tahun 1977, Wahono aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan di Indonesia. Pengalamannya mencakup pendampingan terhadap siswa sekolah menengah, mahasiswa, masyarakat miskin perkotaan, perempuan, anak-anak, petani, serta masyarakat adat. Ia juga terlibat dalam berbagai inisiatif kemanusiaan dan pembangunan perdamaian. Salah satu kontribusi pentingnya adalah menjadi fasilitator dan konsultan dalam proses pembangunan perdamaian di Kalimantan Barat, khususnya dalam upaya rekonsiliasi antara komunitas Dayak dan Madura serta kelompok-kelompok lain yang terdampak konflik sosial.

Selain itu, pria kelahiran Yogyakarta, 18 Arpil 1954 ini juga bekerja bersama pengungsi internal (internally displaced persons) serta komunitas yang terdampak bencana besar, termasuk tsunami di Aceh dan gempa bumi di Yogyakarta dan Klaten, dengan fokus pada pemulihan sosial dan pembangunan kembali komunitas.

Selama lebih dari satu dekade terakhir, Wahono aktif dalam berbagai posisi kepemimpinan dan dewan pengurus di sejumlah lembaga sosial dan kemanusiaan tingkat nasional maupun regional. Di antaranya adalah KEHATI, Bina Desa, INFID, INSIST, serta Yayasan Cindelaras Paritrana, yang juga menjadi basis utama aktivitasnya.

Mantan pastor Yesuit ini juga aktif mengikuti berbagai konferensi dan perjalanan akademik di berbagai belahan dunia, mulai dari Afrika, Eropa, Amerika Utara hingga Amerika Latin, serta telah mengunjungi hampir seluruh wilayah Indonesia dalam rangka kerja sosial, penelitian, dan advokasi.

Sebagai intelektual publik, Wahono telah menulis dan menerbitkan sejumlah buku di bidang teologi, pendidikan, ekonomi, gerakan sosial-ekologis, serta manajemen organisasi. Beberapa karyanya, terutama dalam bidang teologi dan pendidikan, telah menjadi rujukan penting dan dianggap sebagai karya klasik dalam diskursus intelektual di Indonesia.

Di luar aktivitas profesionalnya, Wahono menjalani kehidupan yang aktif dan seimbang. Ia secara rutin bersepeda dan berenang, serta memiliki ketertarikan mendalam pada musik, teater, seni rupa, wayang, dan sastra. Membaca—terutama novel—merupakan bagian penting dari kehidupan intelektual dan sumber inspirasinya.

Similar Posts