Alumni Jesuit Indonesia Perkuat Jejaring dan Galang Dukungan Menuju Kongres Dunia WUJA 2026
JAKARTA — Jaringan alumni Kolese Jesuit Indonesia terus mematangkan langkah menuju pelaksanaan Kongres ke-11 World Union of Jesuit Alumni (WUJA) yang akan digelar di Yogyakarta pada Juli 2026. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Networking Alumni Kolese Jesuit – Indonesia Night: Music & Dinner yang menjadi bagian dari rangkaian Road to XI WUJA Congress.
Kegiatan ini digagas oleh Perkumpulan Alumni Kolese Jesuit (PAKJ) sebagai ruang temu lintas generasi dan lintas profesi alumni Jesuit, sekaligus momentum membangun kolaborasi strategis untuk menyukseskan agenda global tersebut.
Ketua Umum PAKJ Hendra Hudiono menegaskan, WUJA 2026 bukan sekadar perhelatan alumni internasional, melainkan kesempatan bagi Indonesia untuk menunjukkan wajah kepemimpinan berbasis nilai-nilai Ignasian di tingkat dunia.
“Kami tidak hanya mengundang Bapak dan Ibu untuk hadir sebagai sponsor, tetapi sebagai partner peradaban. Networking yang kuat harus berujung pada action yang berdampak, khususnya di bidang pendidikan, sosial, dan lingkungan hidup,” ujar Hendra dalam sambutannya di Music Place, Hotel Fairmont, Rabu (04/03/2026), Jakarta.
PAKJ sendiri merupakan wadah pemersatu alumni dari delapan kolese dan satu perguruan tinggi Jesuit di Indonesia, mulai dari Kolese Kanisius dan Gonzaga di Jakarta, Loyola dan PIKA di Semarang, Mikael–ATMI di Solo dan Cikarang, De Britto dan Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta, Seminari Mertoyudan di Magelang, hingga Kolese Le Cocq d’Armandville di Nabire.
Tantangan Pendanaan dan Panggilan Kepemilikan Bersama
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pengawas PAKJ sekaligus Chairman Advisory Board WUJA, Purnomo Yusgiantoro, secara terbuka mengungkapkan tantangan utama penyelenggaraan kongres, yakni pendanaan.
Ia menyebutkan, total kebutuhan anggaran Kongres WUJA 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp8 miliar. Hingga saat ini, dana yang terkumpul masih berada pada kisaran setengah miliar rupiah.
“Ini momen besar, bukan hanya untuk alumni Jesuit, tetapi juga untuk bangsa dan negara. Karena itu, suksesnya WUJA bukan tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab kita bersama,” kata Purnomo.
Menurut dia, penyelenggaraan kongres dunia ini juga akan membawa dampak ekonomi dan kultural bagi Yogyakarta, mengingat peserta dari berbagai negara akan tinggal selama beberapa hari dan berinteraksi dengan masyarakat lokal.
Spirit Ignasian dan Regenerasi Harapan
Provinsial Serikat Yesus Provinsi Indonesia, Benedictus Hari Juliawan, dalam refleksinya menekankan bahwa kekuatan utama jejaring alumni Jesuit terletak pada point of view Ignasian yang terus diwariskan lintas generasi.
Ia berbagi pengalaman saat melakukan visitasi ke komunitas frater muda yang sedang menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Dari lima frater yang ditemuinya, sebagian besar menyatakan minat untuk berkarya di kolese dan mendampingi kaum muda.
“Motivasi mereka terdengar polos dan lugu: ingin mendampingi orang muda. Tapi justru dari kepolosan itulah lahir dampak jangka panjang. Anda semua yang hadir malam ini adalah buktinya,” ujar Romo Beni—sapaan akrabnya.
Menurut dia, Kongres WUJA 2026 merupakan wujud “ambisi besar” alumni Jesuit Indonesia untuk menularkan cara pandang Ignasian—sebuah cara melihat dunia yang menekankan refleksi, keberpihakan, dan keberanian untuk terlibat dalam perubahan sosial.
Menuju Yogyakarta 2026
Kongres WUJA ke-11 di Yogyakarta akan mengusung tema “United in Spirit, Leading with Purpose”. Tema ini diharapkan menjadi refleksi sekaligus seruan bagi alumni Jesuit di seluruh dunia untuk menyatukan semangat dan mengarahkan kepemimpinan mereka demi tujuan kemanusiaan yang lebih luas.
Melalui rangkaian kegiatan jejaring dan penggalangan dukungan yang terus dilakukan, PAKJ menegaskan komitmennya untuk menghadirkan WUJA 2026 bukan hanya sebagai peristiwa seremonial, melainkan sebagai ruang lahirnya kolaborasi nyata dan berkelanjutan.

