Selamat Jalan Romo Mudji Sutrisno SJ
Kepergian Romo Mudji Sutrisno, SJ meninggalkan kekosongan yang sunyi namun dalam di dunia pemikiran, pendidikan, dan kebudayaan Indonesia. Ia bukan hanya seorang imam Serikat Yesus, tetapi juga seorang filsuf, pendidik, dan perawat nalar kritis yang sepanjang hidupnya setia pada pencarian makna kemanusiaan dalam konteks sosial yang konkret.
Sebagai pengajar dan pemikir, Romo Mudji dikenal luas karena ketekunannya membangun jembatan antara filsafat dan kehidupan sehari-hari. Ia menolak filsafat yang terkurung di menara gading akademik. Baginya, filsafat harus menyentuh luka sosial, menyapa penderitaan manusia, dan membantu masyarakat membaca realitas dengan kejernihan sekaligus kepekaan etis. Dalam banyak tulisan dan perkuliahan, ia menghidupkan filsafat sebagai latihan kebebasan berpikir dan tanggung jawab moral.
Romo Mudji juga dikenal sebagai sosok yang setia pada tradisi humanisme—sebuah humanisme yang tidak naif, tetapi sadar akan keretakan sejarah, ketimpangan sosial, dan kekerasan struktural. Ia memandang kebudayaan sebagai ruang pergulatan makna, tempat manusia belajar menjadi subjek yang merdeka sekaligus solider. Dalam kerangka ini, pendidikan baginya bukan sekadar transmisi pengetahuan, melainkan proses pemanusiaan manusia.
Sebagai imam Jesuit, spiritualitas Ignasian tampak nyata dalam cara hidup dan berpikirnya. Diskresi, keheningan, dan refleksi mendalam menjadi ciri khasnya. Ia tidak gemar menempatkan diri di pusat sorotan, tetapi memilih bekerja dalam kesetiaan sehari-hari: membaca, menulis, mengajar, dan menemani. Keteladanan Romo Mudji terletak pada kesatuan antara kata dan hidup—antara refleksi intelektual dan praksis etis.
Bagi para mahasiswa, kolega, dan siapa pun yang pernah bersua dengannya, Romo Mudji dikenang sebagai pribadi yang rendah hati, terbuka terhadap dialog, dan sungguh menghormati perbedaan pandangan. Ia percaya bahwa dialog adalah syarat mutlak bagi masyarakat yang dewasa, dan bahwa nalar hanya dapat bertumbuh bila disertai kerendahan hati.
Kini, ketika Romo Mudji Sutrisno, SJ telah berpulang, warisan terbesarnya bukan hanya pada karya-karya tertulisnya, tetapi pada cara berpikir yang ia tanamkan: berpikir jernih, bersikap manusiawi, dan beriman secara dewasa. Dalam keheningan kepergiannya, kita diajak melanjutkan perjuangan sunyi itu—merawat akal budi, menjaga martabat manusia, dan setia pada kebenaran yang membebaskan.
Selamat jalan, Romo Mudji. Terima kasih atas pengabdian, keteladanan, dan cahaya nalar yang telah Engkau bagikan. Semoga engkau beristirahat dalam damai, dan semoga benih pemikiranmu terus bertumbuh dalam hati banyak orang.
